Aku terbangun,
mendapati matahari berjalan sudah cukup jauh.
Bagai titik bintang yang kian mengecil.
Aku terbangun,
mendapati malam mengulurkan sayap.
Aku ingin meraihnya, tapi semuanya tertinggal di sini.
Di mata indahmu,
Apa yang menarik dari makhluk yang hatinya tidak utuh lagi?
Apa yang menarik dari makhluk yang hanya bisa menoleh ke belakang?
Apa yang indah dari makhluk yang pincang, menahan kesakitan setiap kali berdiri?
Aku menyematkan jahitan di hatiku,
aku menggunakan belat di leher dan menyeret tatapanku,
dengan bantuan tongkat dan Tuhan, aku berjalan.
Aku berjalan tertatih di sini setiap hari, entah panas ataupun hujan.
Badai memang sudah harus berlalu,
tapi aku masih berteman dengan gelap.
Dan malam bersayap berulang kali membawaku terbang.
Malam, aku heran padamu,
apa yang menggerakkanmu sedemikian itu?
Untuk berdiri dan berjalan saja aku tidak pandai,
bagaimana bisa kau mengajakku terbang?
Berulang kali aku mencari matahariku? Mengapa kau tetap di sini bersamaku?
Kadang makhluk yang optimis pun bisa kehilangan harapan,
seperti aku yang begitu optimis,
kehilangan begitu banyak harapan.
Aku tidak pernah lagi menemui pagi.
hanya siang yang terik tanpa matahari
dan malam dingin menari.
Selebihnya, aku sendiri menatap tongkatku yang kian merapuh.
hanya menunggu saatnya jatuh,
dan aku mengandalkan Tuhan.
-Metamorphosa By WS Rahayu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar