Iya, masih dengan luka yang lama. Hati yang lama.jiwa lama. haha iya, aku bahkan tidak pernah berhasil menjadi orang yang baru. aku tetap aku. sejak setahun yang lalu. hanya memelihara luka. luka. dan luka lagi. bahkan sudah mulai bersahabat dengan baik. dengan luka. seandainya dengan luka bisa mendapatkan uang. aku sudah menjadi milyarder sekarang haha. tapi aku pernah belajar ketulusan. bahwa untuk bersahabat dengan tulus tidak perlu mengharapkan apapun, seperti aku yang bersahabat dengan luka.
Heran sendiri dengan keadaan hati yang selalu bicara sendiri. maju mundur begitu. Nggak jelas. penuh dengan keraguan. sebentar-sebentar semangat. sebentar-sebentar muak lalu ingin terburai. tergeletak. begitu.
kalian, kalian yang mengaku pernah mengerti aku. membaca ini. tidak usah sungkan tertawa. aku juga tertawa. menertawakan aku yang sedang ditertawai dunia. ini sangat menggelitik. dan aku menikmati sekali permainan ini. di mana aku diharuskan konsisten. seimbang. tapi aku terpincang-pincang, terpeleset-peleset. lucu sekali duniaku.
Paling hanya pada saat berdoa aku bisa mulai terdiam. mendiamkan pikiranku yang tidak berhenti bicara. sejak setahun yang lalu itu. waktu dia pergi meninggalkan semua cerita dan aku. jejaknya aku usap-usap. kutandai biar jelas. biar aku bisa memandangnya setiap kali aku rindu. rindu kesiapa? seseorang yang mengaku dirinya sebagai temanku. dengan kehidupan barunya yang mengasyikkan. sampai-sampai dia lupa bahwa aku disini pernah dia katai 'sayang..'.
Aku pun sadar. dia yang mengaku sebagai temanku sekarang memang lebih cocok sepert itu. tanpaku dan bebas katanya. sudahlah. aku sudah terlanjur menikmati ini. kata ibuku ketulusan tidak harus diketahui. barangkali aku bisa melakukannya, untuknya dan untuk cerita yang sudah dirangkaikan Tuhan.
Setiap hari itu baru. Iya, baru. baru. tapi hatiku masih yang lama. masih menyebalkan. matikan saja. biar gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar