Laman

Rabu, 08 Agustus 2012

Muak

"aku muak." 
tanganku menekan tuts-tuts keyboard di ponselku. aku kirimkan pesan singkat itu kepada seseorang di ujung bumi sana yang sampai saat ini masih menjadi sahabatku. mamas, begitu biasa aku memanggil. dia selalu bisa menenangkan aku yang masih labil dalam berpikir. masih paham kan dengan maksudku? aku yang seperti kemarin itu. aku muak mengucapkannya. jadi, mohon pengertiannya.

Dan kali ini, mungkin mamas benar-benar putus asa dengan tingkahku. dia tidak membalas pesanku. aku yang merasa sepi, kembali merasa bicara sendiri. sedihku menjadi, muakku naik hingga kerongkongan. mataku mulai menahan buliran bening. aku mengirim pesan lagi. kali ini cukup panjang.

"aku muak sama keadaan ini, mana tongkat yang menguatkan aku? mana senyum yang bahagiakan aku? mana belaian yang menenangkan aku? aku bukan manusia taat, makanya aku lemah. aku muak ya Alloh, setiap kali harus kuatkan diri sendiri. aku muak ya Alloh, harus tersenyum sendiri, aku muak ya Alloh tidak bisa berhenti menangis. aku muak sekali ya Alloh.."

aku tumpahkan semuanya, menggigit bibirku untuk menahan perihnya dada. tak lama kemudian ponselku bergetar. pesan dari mamas :

"kamu itu pahami cinta lebih dalam daripada kamu pahami rasa syukurmu kepada Tuhan."

biasanya setelah membaca pesan mamas yang nadanya cukup keras, aku akan diam dan tersenyum, tapi kali ini seolah itu semua hanya tulisan belaka aku masih sama. masih tetap muak. dan kemudian aku membalasnya lagi dan selanjutnya kami bercakap-cakap.

"ajari aku menemukan diriku lagi yang seperti dulu.. ajari ya mas ya.." kataku
"angel. wis tak ajari bola bali."
"lahhh, aja kesel ya lahh..."
"wis ket mbiyen. ade bae sing selalu nginget-inget bae."
"aku juga ngga pengen. dia malahterang-terang ngedeki cewe. tapi dia sante banget mas. aku juga pengen sante mas. malah pengen amnesia.."
"mumet mikirna karepmu de, nganahlah dipikir dewek.."
"okelah mas, dd juga ngga minta dipikirin. cuma minta ditemenin. itu aja. biarpun jalan kita beda. mas ke sebelah sana, dd ke sini. dd cuma butuh temen."
"aring kowe ta ora mblenger. cuman watekmu kuwe sing mbebeih. penting apa masa lalu. basi lah masa lalu."

sepertinya mamas sudah lebih muak daripada aku. sekarang aku takut dia ikut pergi. dan membiarkan aku begini. sendirian. terbakar sesuatu yang senang sekali membakarku.

aku muak.        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cool Dark Blue Pointer Glitter