"Apa? kamu bilang aku akan lebih baik?!"
Aku hanya tersenyum perih mendengar ucapannya. Dia selalu, membicarakan tentang takdir. Tentang keadaan yang memaksaku untuk "amnesia". Untuk tidak mengingat semua yang aku ciptakan sendiri, semua yang aku buat sendiri. Segalanya, saat bersamamu.
Kamu tidak pernah mengerti rasanya bagaimana aku selalu berusaha jatuh bangun, terjungkir balik untuk menikmati hari-hari kelamku setelah kamu putuskan untuk pergi melepaskanku. Kamu tidak pernah menengok sebentar saja, sekitar 45 derajat ke arahku, hanya sekedar untuk melihat sekejap bagaimana luka ini terus mengucur dan tidak juga mengering.
Yang kamu tahu, hanyalah "Ini semua TAKDIR dari Tuhan, ini YANG TERBAIK??"
takdir? yang terbaik? bahkan semua orang sudah tau, tanpa aku beri tahu bahwa aku ini hampir gila. Iya, bukankah aku ini sangat aneh? Iya, menurutmu juga begitu kan? Hahahaha.. Sekarang aku tidak bisa lagi membedakan seperti apa tangis dan seperti apa tawa.? Kamu membuatku terbiasa untuk menyatukan keduanya. Iyah, dan selalu terjebak dalam keputus asaan.
"Maafin aku ya, aku jadi ngerasa bersalah.."
Kamu mengatakan hal itu, dan aku tidak tahu nadanya seperti apa. Apakah kata maaf hanyalah sebuah formalitas belaka yang biasa diucapkan setelah melakukan sebuah kesalahan? Lalu, setelah aku menjawab "ya, nggak apa-apa kok.." kamu kemudian bisa tersenyum sambil mendengarkan hatimu bicara.. "yang penting aku sudah minta maaf.."
Baiklah, kamu merasa bersalah atau tidak, entah minta maafmu dari hati atau tidak. Semuanya akan tetap sama. Aku tetap kehilanganmu. Yah, katamu ini takdir. Sadarkah kamu, bahwa takdir ini kita buat sendiri?
aku percaya "do'a yg bisa menangkal takdir..." dan sayangnya kau tidak.. *mungkin..
Dan sekarang, aku dipaksa untuk amnesia, melupakan, dan meninggalkan semuanya, yg tdk mungkin pernah aku buang. jadi, ini semua.. te,, tentang takdir??
(Untuk seseorangku, yang pernah menguatkan kaki dan langkahku..)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar