Ibu, matahariku sudah tenggelam.
Iya, seperti yang Ibu lihat.
Seperti yang Ibu tahu.
Gelap yah Ibu yah?
Ibu, cambuk aku dengan doamu.
Biar aku bisa seperti kilat.
Ampuni aku, yang mencambuki diri sendiri.
Aku pikir dengan ini aku bisa jadi kilat. Hahaha
Ternyata aku tidak seperti yang aku bayangkan Ibu.
Ibu, biarpun matahariku tenggelam,
Aku masih mempunyai dirimu.
Matahariku yag tidak pernah padam.
Cintaku padamu,,
Seperti aku mencintai kata-kata.
Tidak terbatas.
Cintaku bersembunyi di antara huruf-huruf.
Ibu, cambuk aku lagi dengan cintamu.
Aku yang tidak pernah yakin, bahwa aku bisa menari di tengah
hujan.
Bahwa aku akan sampai di ujung dunia sana.
Ibu, aku tidak pernah tahu
Bagaimana cara menemukan surga di alas kakimu.
-maka cambuklah aku-
Tapi do’amu membasuh lukaku,
Aku akan selalu mengembara di dalam dirimu, Ibu.
Biar kutemukan surga, yang selalu mengikutimu.
Kemanapun Ibu pergi.
Sekali lagi,
Cambuk aku.
Yang tidak pernah mengerti waktu.
Cambuk aku,
Yang tidak pernah berhenti mencambuki diriku sendiri.
Ampuni aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar